Friday, March 4, 2011

Perburuan Ikan Semah di TN Betung Kerihun Marak

Perburuan Ikan Semah di TN Betung Kerihun Marak

Lagi2 kita keduluan dengan tetangga jiran kita..
Ikan Semah adalah nama daerah dari ikan Mahasheer... atau biasa orang bilang red kelah

Perburuan Ikan Semah di TN Betung Kerihun Marak


KAPUAS HULU – Minggu pagi (27/7), di Dusun Sadap, Desa Pinjawan, Kecamatan Embaloh Hulu, Kabupaten Kapuas Hulu, Kalimantan Barat (Kalbar), berbatasan langsung dengan Taman Nasional Betung Kerihun (TNBK), sebuah mobil pick up Land Cruisser nomor polisi Sarawak, Malaysia Timur, meluncur. Dua pria setengah baya turun dan langsung menaiki rumah betang (rumah panggung panjang) yang dihuni Suku Dayak Iban.
Pasangan suami-istri, Damianus Jua dan Daria, menyambut dua warga asing itu dengan ramah. Setelah berbicara basa-basi, tamu dipersilakan masuk ke ruang belakang. Lima ekor ikan semah (tor sambra) yang tengah asyik berenang di dalam kolam berair deras ditangkap. Setelah ditimbang, berat keseluruhan mencapai 16 kilogram.
Dua warga asing yang juga cukup fasih berbahasa Dayak Iban itu, merogoh uang di kantong RM 960 (Rp 2.688.000), karena per kilogram disepakati harganya RM 60. Lima ekor ikan semah yang sudah mati usai ditimbang, dimasukkan ke dalam kulkas berukuran sedang yang sudah disiapkan di dalam mobil. Selanjutnya dibawa ke Lubuk Antu, Sarawak, melewati Pos Pemeriksaan Lintas Batas (PPLB) Badau yang kini tengah dibangun dengan jarak tempuh 88 km.
Damianus Jua mengatakan, karena tiap tahun permintaan terus meningkat, maka harga satuan terus melambung. Jika tahun 1997 per kilogram harganya hanya RM 25, sekarang sudah mencapai RM 60. Malah menjelang
Perayaan Idul Fitri dan Natal, harga satuan lokal bisa mencapi RM 90 per kilogram. Sementara di Sarawak, ikan semah merupakan menu hidangan paling bergengsi di sejumlah restoran terkemuka.
Sekretaris Eksekutif Partai Bansa Dayak Sarawak (PBDS) Sidi Munan, mengatakan, di sejumlah restoran terkemuka di Kuching, per kilogram ikan semah harganya berkisar antara RM 125 - RM 150 (Rp 350.000 - Rp 420.000).

Usaha Sampingan
Memelihara ikan semah, sejenis ikan jelawat yang populasinya terbanyak di sungai berair deras, merupakan usaha sampingan yang cukup menjanjikan bagi masyarakat di seputar TNBK. Padahal ikan semah merupakan jenis satwa yang terancam punah.
Masing-masing kepala keluarga membangun kolam buatan berukuran 4 x 5 meter. "Tiap minggu paling tidak 50 kilogram ikan semah dari Dusun Sadap dibeli langsung warga Sarawak," tambah Damianus.
Damianus mengatakan, ikan semah ditangkap secara tradisional dari penghuluan Sungai Embaloh, kawasan inti TNBK, dengan cara dipancing, dijala atau dipukat.
Kepala Balai TNBK Ir Soewartono MM mengatakan, perburuan satwa yang dilakukan masyarakat lokal sudah cukup serius. Khusus ikan semah, populasinya akan terancam punah paling lama 10 tahun mendatang, jika tidak dilakukan langkah antisipasi secara terintegratif.
Menurut Soewartono, rusa (cervus equimus) dan ikan semah merupakan jenis satwa sangat langka yang paling diburu. Rusa yang dilindungi UU nomor 5 Tahun 1990 tersebut biasa dibuat dendeng dengan harga bisa mencapai Rp 175.000 per kilogram di sejumlah supermarket di Pontianak dan kota lainnya di Kalbar. Tanduk rusa dihargai Rp 250.000 per unit sebagai barang hiasan bergengsi di lingkungan keluarga ekonomi mapan.
Permintaan terhadap ikan semah dari warga Sarawak juga terus meningkat.
Tak Ada Alternatif
Pencurian kayu dan perburuan satwa di TNBK menunjukkan intensitas yang terus meningkat pula setiap tahun, karena masyarakat masih menganggap kawasan TNBK sebagai tanah warisan adat.
Dalam tiga tahun terakhir, 2000-2003, TNBK yang terletak di penghuluan Sungai Kapuas dan berbatasan darat langsung dengan Wildlife Sanctuary Lanjak-Entimau Sarawak (LEWS) seluas 200.000 hektar, mengalami pencurian kayu dan perburuan satwa yang sangat tinggi.
Secara keseluruhan, luas kerusakan hutan akibat pencurian kayu mencapai lebih dari 900 hektar dan perburuan satwa mencapai 8.970 ekor. Nilai nominal kerusakan TNBK diperkirakan mencapai lebih dari 64 miliar rupiah. Namun di sisi lain, sumber usaha alternatif yang paling menjanjikan belum sepenuhnya berhasil disediakan pemerintah secara terintegratif.
Soewartono mengatakan, kendala yang dihadapi selama ini, belum adanya Peraturan Daerah (Perda) mengenai pelestarian lingkungan dan Perda mengenai penetapan kawasan yang dapat dikelola berikut prosedur perizinannya. Pendekatan keagamaan juga belum diinternalisasikan menjadi perangkat penguatan hukum adat oleh masyarakat.
Sementara itu, hukum adat belum cukup efektif untuk mengatasi kegiatan penebangan liar dan perburuan satwa dan pemerintah belum mampu mengangkat harkat dan martabat masyarakat adat dari kemiskinan dan ketertinggalan dalam berbagai strata kehidupan.
"Di sini dibutuhkan upaya penegakan supremasi hukum secara terpadu. Di pihak lain, diperlukan keterpaduan, keselarasan, keterbukaan baik dalam hal perencanaan, pelaksanaan, monitoring dan evaluasi maupun pendanaan. Memaksimalkan keterlibatan masyarakat adat dalam pengelolaan sumberdaya alam," kata Soewartono.
Pembangunan sarana dan prasarana umum dalam mendukung program pengembangan potensi ekonomi masyarakat di sekitar kawasan juga perlu segera direalisasikan.
Juga diperlukan penetapan hak paten terhadap produk masyarakat di sekitar kawasan dan peningkatan sumber daya manusia dan teknologi serta pengembangan diversifikasi produksi masyarakat.
TNBK dan LEWS di Sarawak dengan luas keseluruhan 1 juta hektar, merupakan salah satu lahan basah hutan tropis yang memiliki keanekaragaman hayati paling unik di dunia. Awal tahun 2003, kedua kawasan ini diusulkan kepada United Nations Educational Scientific and
Cultural Organization (UNESCO) sebagai warisan alam dunia kawasan konservasi lintas batas. "Selagi kita belum menunjukkan sikap serius dalam menyelamatkan kawasan TNBK dari tindak pencurian kayu dan perburuan satwa liar, maka Indonesia tetap akan menjadi sorotan dunia," demikian Soewartono. (SH/aju)
Last edited by hampala; 15-07-2008 at 08:01. Reason: tambahan

No comments:

Post a Comment